10.02.09
secarik pepatah subjektifitas
…..cecar-cecar tanda tanya…
Terengahku berada di bumi yang begitu eksis ini…
terpojok oleh semua ketidak warasan diri yang meraung-raung…
terpukau oleh sesuatu yang fana…
lalu kenapa begini…
kenapa aku tidak dapat membahasakan apa yang aku rasakan dengan sangat dalam ini…
Aku hanya ingin hidup seperti sewajarnya hidup…
aku tidak mau jadi pemenang dunia ini…
aku tidak berniat menjadi pencari ke-nomor satu-an…
aku bukan orang yang tepat untuk berkejaran dengan orang lain…
aku bukan kompetitor yang baik…
aku belum bisa menjadi si juara satu…
jika orang lain berlari…aku hanya…mungkin berjalan pelan sambil menjadi diri sendiri….
aku….hanyalah aku….
yang hanya seperti ini…..
———————————————————————————————
Tahun ini musim dingin begitu panjang…
semoga kelak matahari sudi membagi sedikit sinarnya padaku…
*doa pencari ketenangan malam*
05.29.09
Ratapan hati yang belum tergenang..
Berdiri dengan semua kepongahan membuat hati merasa memegang teguh tambuk kemenangan dengan tangan kiri , bagi sebagian orang ini merupakan kebutuhan tersier , namun sebagian lagi merasa ini kebutuhan sekunder , bahkan sebagian lagi merasa primer terhadap kebutuhan ini . namun adakah yang lebih baik bagi orang yang merasa bimbang ketimbang bertanya kepada yang maha kuasa dan meruntuhkan semua kepongahan..
Ratapan ini hanya sebuah suara kecil yang bahkan tak terdengar oleh bisingnya telinga..
Ratapan ini hanyalah sebuah respon terhadap semua ketidak-ajeg-an diri..
Ratapan ini yang sesungguhnya menjadi sebuah perhelatan antara hati dan tindakkan yang eksis..
Lalu kapankah ratapan ini terdengar?
Hendaklah semua insan mendengarkan ratapannya , sehingga tergambarlah suasana hati yang kian mengkhawatirkan , takut-takut lagi-lagi akan melupakan jalan kebenaran…
Jalan yang katanya akan membawa kebahagiaan multidimensional…
Entahlah…semoga ada yang terketuk atau membantu orang lain terketuk untuk mendengar ratapan yang selalu melakukan perlawanan gerilya dalam derasnya darah bercucuran.
Hanya mencoba menyadarkan diri bahwa telah nyata kerusakan di bumi akibat ulah manusia.
01.10.09
Sebuah nilai kemerdekaan seorang penggundah…
Serangan stigma jalanan yang banyak berkeliaran kian terasa aromanya. Hal ini dikarenakan perbedaan yang cukup signifikan terhadap apa yang didefinisikan sebagai sebuah statement politis antara dua kubu yang mengaku memiliki kesamaan orientasi , namun direfleksikan dalam wujud eksistensi yang sama sekali tidak identik . Kata-kata menunggangi penderitaan rakyat palestina , isu persamaan gendre , hingga masalah tentang pemilihan kepala daerah yang meruncing kian santer diperdebatkan. Sebetulnya , apa yang mereka perdebatkan ? . Apakah ini masalah krusial bangsa ini ataukah hanya dilatarbelakangi oleh rencana politis yang terselubung , baik mempersoalkan masalah koalisi atau apalah itu.
Lelah rasanya , hanya menjadi rakyat biasa yang kenyang dengan warna-warni gemerlapnya lambing partai namun masih harus melihat rumah-rumah pinggir sungai yang sangat tidak layak huni. Ironis rasanya ketika melihat banyaknya atribut kepartaian yang melimpah dengan anak-anak yang putus sekolah dan angka kemiskinan yang belum juga mencapai batas yang dapat menenangkan keadaan psikologis bangsa ini. Maka wajarlah bila kita dikenal sebagai bangsa yang pemarah , karena memang begitu banyak manusia yang sangat jelata di luar sana rela melakukan apapun untuk dapat melanjutkan hidupnya yang sangat minimalis tersebut.
Mungkin Ini hanya suara seorang proletar yang tidak banyak diperhitungkan dan bahkan tidak membawa perubahan apapun. Namun , semoga saja dapat mengakomodir jutaan suara yang di luar sana serta menjadikan sebuah cita-cita baru bagi para pemerhati bangsa ini. Seperti bung hatta yang terdorong untuk memerdekakan bangsanya sendiri lantaran merasakan keadilan di negeri belanda , penjajah bangsanya sendiri.
11.20.08
sebuah pertanyaan…
suatu hari, seorang sahabat bertanya kepada mursyid, mengenai mengapa saya begitu tidak menyukai dunia politik.
Bukan tidak suka, hanya saja, bagi mursyid, cukup sulit mencermati dunia politik. Tentang segala konspirasinya, tentang segala taktiknya, dan hal lain,
seorang profesor dalam bidang ilmu poitik pernah bertutur dalam sumber ilmunya bahwa politik adalah tentang bagaimana membuat kebijaksaan, lebbih dalam lagi ia menuturkan bahwa untuk membuat sebuah kebijaksaan, tentunya membutuhkan kewenangan ( authority ) serta kekuasaan ( power ). Itulah yang kian kali menjadi pengganjal untuk seorang yang awam seperti mursyid memahami politik.
seorang sahabat kerap kali mengutip kata-kata dari ”buku harian seorang demonstran” oleh Gie. “pada akhirnya kita akan berpolitik”. Begitu katanya.
mursyid percaya bahwa akan ada saatnya mursyid yang kerap kali berfikir dengan sejawat tentang utopian masa depan bangsa ini, akan berpolitik atau bergerak dalam dunia yang berbau politis kian nyaring. Meskipun entah kapan mursyid akan benar-benar masuk kedalamnya, setuju dengan segala anomali yang kian terlihat setiap saat. Mungkin, mursyid lebih menyenangi kajian buatan bersama dalam sebuah forum sanagt kecil. Perbincangan yang kerap terjadi kala makan siang, sore, atau ketika berbincang santai pada saat menunggu mentari tenggelam di ufuk barat. Bersama dua orang sahabat dengan tingkat intelektual tinggi, menjadi tempat berakselerasi yang sangat hangat bagi mursyid. Sebuah pertanyaan akan berlanjut menjadi beberapa pertanaan dengan tema serupa. Masih tetap mencoba berdiskusi tentang idealis bangsa ini dengan kompetensi yang kami miliki masing-masing.
Seperti apa yang dilakukan soekarno , hatta , sjahrir , dan tokoh lain ketika muda. Berbincang tentang kondisi bangsa terakhir, kemudian dikaji lebih dalam dari berbagai aspek khusus.
11.16.08
kerisauan seorang rakyat jelata.
menjadi sebuah kegundahan yang sederhana ketika seseorang yang jelata menginjakkan kakinya di dunia yang tak sepolos anak lugu.
Tidak membahas tentang politisi orang-orang yang memang sangat lekat dengan permintaan zaman. politis bagi seseorang yang jelata hanya menjadi sebuah permainan yang hanya dapat dilihat dari kejauhan. Sebagai orang yang mengambil peran di dunia, aku mencoba merepresentasikan segala kegundahan.
kapankah semua ini berjalan dengan apa yang di impikan, hanya terjangan zaman yang sanggup membacanya.
